Seragam putih abu-abu kulepas dan kulempar ke bibir kasurku yang empuk, sepatu kutarik dari dua kakiku dan kududukan ke rak tempat sepatu adiku bertengger, tasku aku kaitkan ke sisih kursi tempatku belajar sambil bermain handphone. Matahari sedang tak bersahabat, awan hitam tak juga nampak dua minggu ini. Aku berganti kaos tidur yang sebetulnya aku tak ingin tertidur. Kusapa pembeli yang ada di warung ibuku. Kulihat wajahnya tampak lemas, aku rasa dia kehausan. Dia menunjuk marimas rasa jeruk dan aku tahu maksudnya itu. Ku berikan padanya seplastik es marimas yang segar dan dia memberi uang seribu rupiah. Kumasukan uang itu kedalam laci tempat uang lainnya bersembunyi.
Bapak pulang dari pekerjaannya sebagai kuli bangunan, bajunya tampak bercipratan semen yang mengering, wajahnya kehausan. Kuberikan secangkir es teh kepadanya yang sedang duduk melepas pegal di kursi tamu. Kulihat emak yang hanya diam melihat kedatangan bapak. Aku tak tahu apa emak sengaja ndiemin bapak atau bagaimana kurasa itu sebab pertengkaran yang tidak sengaja kudengar kemarin malam. Ketika seharusnya pertengkaran orang dewasa yang seharusnya tidak boleh aku dengar, malah telingaku ini menghendaki untuk mendengarkan pertengkaran itu. Bapak yang melihat perilaku emak berpura-pura cuek. Dia menyuruhku untuk mengambil satu batang gudang garam lalu dia menghisapnya dengan santai.
Aku masuk kamar dan mengingat pertengkaran antara bapak dan emak malam itu. Pertengkaran di ruang tamu tempat tadi aku memberikan minum kepada bapak.
Aku sedang sms-an dengan kekasihku dan pintu kamarku untungnya tertutup sehingga emak dan bapak mengira aku sudah mendapat bunga tidur. Emak yang saat itu sedang ingin tidur ditarik paksa oleh bapak. Tangan emak langsung mengelak tak ingin disentuh bapak. Aku kaget mendengar bapak tiba-tiba seperti itu, aku mecoba untuk bersuara tapi bibir ini seakan tertidur. Emak didorong ke kursi.
“Sudah mulai berkuasa ya kamu?!” bentak bapak hati-hati karena tidak ingin ada tetangganya mendengar.
“Terserah aku, Kang. Ini uang aku. Toh ini juga hak aku, terserah aku mau ngapain uang ini” tegas emak dengan kasar sambil pergi dari hadapan bapak. Tetapi bapak masih mencegah emak elak darinya.
Mataku seakan tak ingin lagi melihat semua ini dan muncul dari pertengkaran emak dan bapak. Tapi aku hanya anak berusia enam belas tahun yang tidak tahu-menahu urusan orang dewasa. Handphoneku bergetar terus tanda sms masuk. Kubiarkan itu. Kubiarkan kekasihku marah. Aku lebih tak ingin membiarkan bapak dan emakku marah.
“Tapi bukan dengan cara meminjamkan uang sepuluh juta itu kepada Narsih seenaknya, dek. Itu uang buat masa depan pendidikannya Retno, anak sulung kita!” tegur Bapak mulai tak sabar.
“Aku tahu, kang. Tapi apa salah kalau aku membantu tetangga kita yang kesusahan? Apa salah?” bentak Emak yang tak mau mengalah.
“Tidak! Tapi bagaimana kalau Narsih tak bisa mengembalikan uang itu? Kita sudah mengumpulkan uang itu bersama-sama, buat keluarga kita, dek” Bapak seakan memperlihatkan perjuangan mereka berdua selama ini kepada Emak.
“Pasti, kang. Narsih akan mengembalikan uang itu. Dia sudah berjanji kepadaku” ucap Emak.
“Persetan dengan janji itu! Kenapa kamu tidak memberitahu aku sebelumnya kalau mau minjemin uang itu kepada Narsih?!” tukas Bapak marah.
Baru kali ini aku mendengar Bapak marah. Bapak yang aku kenal sebagai sosok yang tak pernah mengeluarkan amrahnya, kini langsung dia keluarkan kepada orang yang melahirkanku. Mata ini tak kuat melihat pertengkaran itu, muncul air di sisihnya. Aku putuskan untuk masuk mengendap-endap ke kamar. Namun tetap saja aku melihat pertengkaran itu. Telingaku yang berbuat. Aku matikan handphone dan mencoba untuk tertidur. Tapi telinga ini tetap saja terjaga. Dalam keremangan kudengar pertengkaran itu.
“Sudahlah, kang! Kalau kamu tidak suka! Ceraikan saja aku, lalu pinang janda itu!” bentak Emak marah.
“Janda itu? Jadi selama ini kamu mencuragaiku?!” sentak Bapak.
“Ya! Kata Siem kamu sering jalan berdua dengan janda itu” ucap Emak menetehkan airmata.
“Setan Siem itu, jangan sembarang percaya sama orang, dek. Siem itu hanya ingin membuat keluarga kita hancur!” tegas Bapak.
Emak bersama airmatanya itu lari ke kamar dan menguncinya rapat-rapat agar Bapak tak bisa masuk. Dengan hati marah Bapak terdiam di kursi tamu dan dia memaksakan matanya terbenam.
Aku sendiri berpeluk bantal guling yang basah akan airmataku ini tak percaya apa yang terjadi di malam ini. Malam yang seharusnya aku lewatkan. Bersama isak tangis aku mencoba pergi ke alam mimpi berharap besok tak kuingat lagi pertengkaran itu.
Sejuk embun menetes di bangku reot depan rumahku. Kucingku sedang asyik mencari seekor tikus untuk sarapan pagi ini. Kuhirup udara besih dari balik pohon manggaku yang tua. Duhai cantik awan merah itu. Merdunya suara burung. Sepeda tua berhenti di depan warungku, mengantarkan beberapa gorengan untuk dijual. Kuterima dengan senyum. Emak dari balik badanku menata meja warung agar terisi beberapa dagangan lauk siap saji.
Bapak masih tertidur pulas di ruang tamu. Aku kembali mengingat pertengkaran mereka disitu. Emak mengagetkanku menyuruhku menimba air di sumur. Dari kejauhan aku melihat kucingku berhasil menangkap tikusnya. Dia amat senang, seperti tak ingin diganggu, dia membawa sarapannya itu dibelakang tong sampah.
“Mbak, cocokan peer bahasa inggrisku” ucap Ina, adik bungsuku dari kamarnya yang kulaui.
“Taruh di meja belajar mbak. Nanti aku cocokan sehabis ini” suruhku sambil mengangkut dua ember berisikan air sumur yang dingin.
Aku melihat Bapak masuk ke kamar mandi, wajahnya tampak tak bersemangat.
“Bapak sakit?” tanyaku sambil mengiris lontong untuk menu sarapan pagi ini.
“Tidak, Bapak cuman masuk angin saja, tak usah khawatir” jawab bapak yang duduk di dekat meja makan sambil menatap lontong yang kuiris.
“Ini untuk Bapak” tawarku kepadanya. Nasi lontong berlaukan gimbal menjadi menu yang mantap di keluarga kami pagi ini. Ditambah dengan gorengan untuk cemilan nanti waktu aku istirahat di sekolah.
“Tidak, Bapak puasa” tolak Bapak dengan lesu.
“Ya sudah kalau begitu nanti aku siapkan menu buka untuk Bapak ya” pintaku kepadanya.
“Tumben kamu jadi rajin, kena setan apa kamu? Haha” tanya bapak bergurau.
“Hehehe, mau berubah sedikit lah, Pak” jawabku.
Sebenarnya aku bersikap seperti ini karena tak kuat melihat perilaku emak yang berubah kepada bapak. Dia jadi jarang menyambut bapak pulang kerja, membuat wedang teh yang panas ketika bapak kedinginan di malam hari, dan menyiapakan nasi dan lauk yang lezat untuk bapak. Ina, adiku yang masih duduk di kelas tiga sekolah dasar belum menyadari apa perubahan yang terjadi pada kedua orangtuanya itu. Dia akrab dengan emak dan bapak. Seperti tak ada batu yang mengganjal, dia lalui hari-harinya dengan gembira meski terkadang dia pulang dengan lutut berdarah karena dijahili teman-temannya dan hal itu membuat bapak menyalahkan emak karena tak telaten merawat anak.
Seragam putih abu-abu yang terkait di lemari pakaianku kupakai, lalu sepatu dan kutenteng tas segera bergegas ke sekolah, tak lupa kubawa handphoneku. Emak sedang sibuk mengurusi para pembeli. Aku dan Ina berpamitan dengan Bapak dan Emak. Bapak tidak berangkat kerja kali ini.
Bapak pergi naik sepedanya entah kemana. Emak memerhatikan dari kejauhan sambil meladeni para pembeli. Ternyata Bapak pergi ke tempat Narsih. Dia ingin meminta uang Emak agar dikembalikan. Tapi orang yang dicari Bapak tak ada di tempat. Rumah iu kosong tak ada Narsih dan bayinya. Kata orang Narsih pergi ke luar kota.
Bapak pulang membawa amarah. Emak mengetahui amarahnya. Lalu Bapak pergi lagi. Emak memutuskan untuk bertanya kepada Bapak.
“Kang, mau kemana?” tanya Emak sambil menimbang satu kilo beras yang diminta pembeli.
“Ke Pak’e” jawab Bapak singkat. Emak membiarkan Bapak pergi.
Sebenarnya kepergian Bapak tidak untuk pergi ke rumah Kakek melainkan dia pergi untuk mencari Narsih yang membawa uang keluarganya itu. Dengan mengayuh sepedanya, Bapak terus mencari keberadaan Narsih. Dia bertanya dengan kerabat-kerabat Narsih tetapi mereka tidak tahu kemana Narsih berada. Sampai fajar mulai bersembunyi, Bapak tak juga nampak dari pintu rumah. Aku sudah menyiapakan makanan yang bergizi untuknya berbuka.
Emak juga tampak khawatir. Dia sering salah jika memberi kembalian kepada pembeli sehingga aku ditugaskan untuk menggantikannnya. Ina sedang asyik bermain boneka barbienya.
“Bapakmu kemana saja to, Ret” tanya Emak yang melihatku masuk.
“Aku juga tidak tahu Mak, coba aku ke rumah Kakek” pintaku yang disetujui Emak. Dengan beralaskan sandal aku berlari ke rumah Kakek yang rumahnya berda di desa sebelah kampungku.
Aku bertanya kepada Kakek apa tadi Bapak datang kesini. Namun jawabannya tidak. Lalu aku pergi ke rumah Paman yang berada di belakang rumah Kakek, dan jawabannya tetap tidak. Adzan maghrib berkumandang, aku putuskan untuk berhenti dan pergi ke Mushola. Aku belum sampai ke rumah. Dalam do’a ku, aku berharap semoga keluargaku dapat kembali seperti semula. Aku menitihkan air mata. Untung tidak ada yang melihat kecuali Allah.
Ketika aku ingin pulang ke rumah, dari depan rumah aku sudah merasakan suasana yang gerah. Aku melihat Emak menangis di ruang tamu dan Ina yang tidak tahu apa-apa juga ikutan menangis. Aku melihat Bapak, wajahnya merah, dadanya ngos-ngosan, badannya berkeringat dan kurus. Aku rasa menu bukanya belum dia makan.
“Lihat kebodohan Emakmu itu ! Dia memberikan uang masa depanmu itu kepada pencuri !” bentak Bapak marah. Aku kaget mendengar perkataan bapak yang mencela Emak di hadapan anak-anaknya, terutama si Bungsu Ina.
“Sudah Pak Mak ! Jangan hanya memasalahkan ini dengan pertengkaran dan amarah ! Pinta kepada Allah! Malam ini kita ke kantor polisi’ perintahku marah dengan mata berkaca-kaca.
Emak berganti baju dan bapak juga. Mereka pergi ke kantor polisi. Aku berdiam di rumah bersama Ina. Menemani mereka dalam do’a. Ina memintaku untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi di keluarganya. Aku menjawab bohong, kucing kita dicuri.
Pukul sebelas malam, si Bungsu sudah tertidur, aku gelisah di ruang tamu menunggu kehadiran emak dan bapak. Pintu terbuka, Emak datang dengan penuh penyesalan. Dia memeluku erat. Aku tahu dia ingin mengucapkan maaf kepadaku.
“Aku sudah memaafkan Emak, semoga Narsih dapat segera ditangkap” ucapku menenangkan emak.
Bapak melalui kami lalu masuk ke dapur mengambil beberapa sendok nasi. Kurasa perutnya mulai kelaparan. Aku memberikan lauk yang sudah dingin hasil masakanku kepadanya. Bapak tersenyum.
Malam ini sebelum aku tidur, aku sangat berharap kepadaMu Allah, agar masalah ini dapat segera terselesaikan. Kututup mataku dan berdo’a.
Pagi ini sekolah libur. Emak memutuskan untuk tidak berdagang dengan alasan tidak enak badan. Kakek dan paman pagi-pagi sudah bertamu. Dia menanyai bapak apa sebetulnya yang terjadi di keluarga kami. Bapak menerangkan semuanya. Aku menemani emak di dalam kamar sambil memijiti punggungnya. Ina bermain-main dengan handphoneku.
Kakek dan paman lalu pulang dan berpamitan.
“Mas Yen tenang saja, jangan terlalu beramarah. Polisi akan segera menangkap si Narsih itu” ucap paman yang menenangkan hati bapak.
“Sih, kami pamit dulu ya! Jaga kesehatanmu! Oh ya, mana si Bungsu Ina? Aku kangen dengan pipinya yang gembil” teriak kakek. Ina seakan tahu kalau ada orang yang memanggilnya, melepaskan handphone dari genggamannya dan segera menyerbu kakek.
“Nah si Bungsu! Jangan lupa belajar ya, Kakek mau pamit dulu” tegur kakek, Ina sering dipanggil si Bungsu oleh kakek. Dengan senyum Ina segera mematuhi perkataan kakeknya itu.
Bapak yang melihat tersenyum. Dalam hatinya dia berkata, sungguh titipanmu itu Ya Ilahi membuat senyumumku selalu ada. Aku lega melihat bapak tersenyum.
Malam harinya, ketika keluarga kami masih menunggu informasi dari kantor polisi. Tiba-tiba handphoneku berbunyi. Ternyata itu dari Kapolsek, mereka telah berhasil menemukan dimana kediaman Narsih berada, dan sekarang Narsih sedang ditahan di kantor polisi.
Emak dan bapak segera pergi ke Kapolsek, tak sabar melihat wajah si Narsih. Ketika sampai di Kapolsek, Narsih sedang duduk dengan pandangan kosong. Emak segara ingin menamparnya tetapi ditahan oleh bapak.
“Apa ini orang yang anda maksud Pak?” tanya Polisi.
“Ya pak, dia orangnya! Dia yang telah membawa kabur uang kami!”
“Ternyata benar, dia juga buronan yang selama ini kami tangkap. Dia juga telah memperjualbelikan bayi dan anak di bawah umur. Terimakasih atas laporan bapak. Dan uang bapak yang dicurinya akan segera kami tindaklanjuti, bapak tidak usah khawatir” jelas Pak Polisi sambil merasa puas atas tugasnya yang telah terselesaikan.
Bapak dan emak kaget, ternyata Narsih juga menjadi mafia jual beli anak dibawah umur. Mereka curiga bayinya Narsih itu hasil dagangannya.
Lalu mereka pulang dengan perasaan lega sesekali merasa kesal. Tapi kesal itu buyar ketika melihat Ina yang sudah terlelap dengan wajah manisnya.
“Alhamdulilah, Ret. Semuanya telah terselesaikan” ucap bapak senang sambil memeluku. Emak tengah membenarkan posisi tidur si Bungsu dan mengangkatnya ke kamar. Tapi bapak menghentikannya.
“Biar aku saja” pinta Bapak dengan senyum. Emak juga membalasnya dengan senyum.
Alhamdulliah Ya Allah, Bapak dan Emak sudah baikan. Terimakasih Ya Allah. Syukurku dalam hati. Aku mengambil air wudlu dan sholat isya’ karena sedari tadi aku belum mengerjakannya.
“Ayo makan, Ret!” seru emak dari ruang makan.Aku tersenyum. ***
-JJ-
JAZANTRI NOVIA ILMANIAH

Tidak ada komentar:
Posting Komentar