Oleh : Jazantri Novia Ilmaniah
Waktu itu, aku melihatnya berdiri melamun dengan hisapan rokok di tangannya. Asap rokok ia buat-buat. Terkadang ia memandang ke depan dan memperhatikan perjalanan hidup yang tampak. Ia mengerutkan wajahnya dan meremas rambutnya yang beruban. Tak disangka, rokok yang ada di genggamannya sudah tinggal setengah perjalanan. Aku membenarkan sarungku dan menyapanya. Dia hanya melihat sekilas sapaanku dan kembali memandang kosong ke depan. Aku terduduk dan mencoba menjalin silahturahmi dengannya. Dia menggeser posisinya.
“Tidak ikut shalat berjama’ah, Pak?” tanyaku seraya memperhatikan raut wajahnya. Tampak kekesalan dalam dirinya saat itu. Dia hanya menghela nafas berbau rokok.
“Tidak, aku munfarid saja” tuturnya sambil menikmati hisapan demi hisapan batang rokok.
“Tapi sebaiknya nanti Ashar, Bapak ikut shalat berjama’ah. Pahalanya lebih ageng” tuturku. Bapak itu hanya membalas dengan anggukan kepala.
Jama’ah lain menyapa dan memandang ke arah laki-laki di sebelahku. Memasang wajah penasaran dan bingung. Tersentak dalam pikiran mereka untuk ikut ngrimpung bersamaku tapi tertolak tiba-tiba setelah melihat penampilan pria di sebelahku ini. Memang penampilan pria ini agak kumel dan boleh dibilang sangar.
“Bapak datang dari mana?” tanyaku mencoba lebih akrab dengannya.
“Dari Tasik” jawabnya.
