Yang Punya Blog

Foto saya
Kendal, Jawa Tengah, Indonesia

Selasa, 30 Oktober 2012

Ketika Jingga, Petang



Jingga datang menelan petang
Embun bersisih kaku di bawah cahaya
Lingkaran bola cerah datang
Telah lahir dari peradaban dan
Membawa sekokoh senyum gempita
Burung berlontar peleluru dan embun mulai menetes
Dari butir ke butir

Jingga datang dengan kehangatan
Yang sempurna,
Padi mulai layu menguning
Pemanen tegap dengan laju sabit
Menyusuri, memangkas yang segar

Kesegaran di jinnga hari
Membawa sengatan hangat bagi pengembala sapi
Mereka berseluring, bernyanyi, juga tertawa
Sapi-sapi bergoyang mengikuti sentuhan jingga

Jingga datang dengan pesan
Aku tatap dengan harapan dan bertanya,
Apa yang perlu kulakukan ketika ini?

Jingga pergi dari tempat
Ditelan petang dan rembulan
Membawa kenangan pikiran dan perasaan

Petang datang dan,
Cahayanya menyentuh terang
Padi ditelan hilang dari pelataran
Beralih ke sawah gersang
Pemanen bersuka ria membawa buah tangan
Dan menyulapnya menjadi beras
Pengembala turun dari punggung sapi
Dan tertidur dengan sepi dan tenang

Petang yang datang dan,
Rembulan menantapku hangat bertanya
Apa yang perlu kau lakukan ketika itu?

MEMORI YANG TERPISAH


Pernah kau menyadari kawan?
Ketika mereka mengejar, merangkul
Dalam lelah, dalam kertidaksiapanmu
Adakah hal yang kamu pikirkan kawan?
Ketika mereka harus pergi dan pergi
Tanpa bisa kau sentuh, tanpa bisa kau jamah kembali
Dan terduduk dalam pangkuan hangat
Amat hangat, sesak juga bersesalan
Seolah  tak ada perhatian dari apa yang kau hadapkan darinya
Apakah kamu merasa kawan?
Mereka tak pernah marah, sedih
Walau kau malas berhadapan dengan mereka
Harus melempar mereka dengan kasar
Sampai kulit mereka yang sobek terus sobek
Kawan, pernahkah kau sadar?
Mereka amat membutuhkanmu
Dan juga kamu
Tiap detik yang ada dan kau rasakan
Juga dirasakan oleh mereka
Air mata yang ada padamu juga ada pada mereka
Begitu seterusnya
Kawan, bahwa antara kau dan mereka
Membawa cerita berbeda iap coretan, sobekan
Kenanglah mereka selagi kau dapat
Karena mereka menunggumu
Mereka suara setumpuk buku di bangku sekolah