Yang Punya Blog

Foto saya
Kendal, Jawa Tengah, Indonesia

Kamis, 12 April 2012

Hadiah Senja Hari


Nada bel berbunyi, anak-anak itu keluar dari pagar sekolah dan mengeluarkan uang sakunya, ini rizki bagiku. Semoga mereka datang menghampiri daganganku dan membeli sejumput sosis atau tempura buatanku dan menukarnya dengan selembar atau alhamdulliah dua lembar uang  ribuan. Seorang bocah kecil wanita berkepang dua sedang memandang ke arahku, mengajak teman sebayanya untuk membeli daganganku.
“Beli apa adik manis?” ucapku lembut kepada pelanggan pertamaku hari ini.
“Sosisnya tiga sama tempura satu ya, Pak” jawabnya lugu sambil memainkan jarinya ke daganganku.
Tanganku mengambil makanan itu dan merendamnya ke minyak yang panas. Dalam pikiranku, andai saja Tika bisa bersekolah disini seperti mereka dan membeli jajan. Dia pasti jadi anak yang berbahagia. Tapi sayang, jangankan menyekolahkannya, membeli sesuap nasi aku masih kelagepan. Hal ini terjadi ketika Fitri, istriku merongrong semua hartaku. Dia berjanji untuk hidup setia kepadaku tapi kenyataanya dia malah mengambil semua kekayaanku dan pergi minggat. Tika yang masih itu enam bulan dia tinggal, padahal di usia Tika, dia masih haus akan air susu ibunya. Dan sekarang aku memulai dari awal. Harus terus mencoba melawan keras pahit manisnya hidup.

Perpustakaan di Era Globalisasi


Sejalan dengan eksistensi dan globalisasi di bidang pendidikan dan teknologi, perpustakan mulai di nomor duakan oleh sebagian murid dan masyarakat. Karena akses internet yang lebih mudah dan cepat, banyak orang yang berpendapat internet akan lebih meminilasikan pekerjaan mereka. “Sebetulnya di internet tidak semuanya benar, jadi untuk kepastian perlu mencari buku sebagai sumber yang benar dan tepat” ujar ibu Nuning(5/4), salah satu petugas perpustakaan di SMKN 1 Kendal yang baru bekerja sekitar satu tahun. Perpustakaan merupakan salah satu fasilitas yang pasti ada di setiap sekolah. Sekitar 12 pengunjung tiap harinya mengunjungi perpustakaan SMKN 1 Kendal ini. Dan sekitar 15 sampai 20 buku habis terpinjam tiap harinya dari jumlah koleksi buku yang tersedia yakni 3.361 judul dan 38.888 eksemplar. Ibu Nuning bukan petugas sendiri di perpustakaan ini, beliau dibantu oleh dua rekan lainnya yakni, bapak Suwardi dan bapak Raditya Bayu Setyo. Berdasarkan data pengunjung perpustakaan tahun lalu dan sekarang, di tahun sekarang mengalami kemajuan. Tahun lalu hanya sekitar 8 siswa setiap hari yang datang berkunjung ke perpustakaan. “Saya sering ke perpustakaan sehabis jam olahraga, karena waktu kosongnya lumayan banyak jadi saya lebih memilih ke perpustakaan” ucap Mia(16), salah satu pengunjung perpustakaan. Buku adalah jendela ilmu, begitu pepatah mengatakannya. Pemakaian internet juga tidak ada salahnya, namun hal itu perlu diawasi dan diimbangi dengan minat baca anak begitu juga sebaliknya, terlebih perpustakaan di SMKN 1 Kendal ini telah menambah fasilitas komputer 4 unit disertai internet yang semula fasilitasnya hanya terdiri dari komputer kerja, ruang vital, perangkat printer, sirkulasi udara, dan kipas. Pengadaan buku koleksi juga telah dilakukan dua bulan sekali, jadi diharapakan para siswa tidak jenuh dengan buku itu-itu saja dan makin bersemangat mengunjungi perpustakaan, sehingga meningkatkan minat baca bagi para siswa. Harapan kedepannya semoga perpustakaan menjadi lebih maju, lebih bermanfaat maksimal dan sebagai pusat informasi.

Jazantri Novia Ilmaniah

Kamis, 05 April 2012

Penulis Yang Baik


Profesi menulis mulai banyak digandrungi oleh sebagian orang di dunia ini. Mereka sering menjadikan menulis adalah pekerjaan sambilan. Mengisi waktu luang dengan menuangkan ide di secarik kertas atau di depan layar monitor. Tapi tak semua pekerjaan sebagai penulis itu mudah, berkisar dari royalti yang hanya sekitar 20% dari karya yang dibuat dan hal itu tergantung oleh nama besar penulis tersebut. Royalti sebesar 20% itu bisa dinegosaikan dengan pihak penerbit. Sebagai contoh adalah J.K. Rowling penulis novel cerita serial petualang “Harry Potter” ini dapat meraih kekayaan dari tulisannya sampai miliyaran dolar dari karyanya tersebut. Bahkan kabarnya, kekayaannya telah mengalahkan kekayaan Ratu Inggris. Dan mari kita tengok kisah penulis anak bangsa misalnya, Habiburrahman El-Shirazy penulis novel “Ayat-ayat Cinta” yang mendapat royalti sampai 2 milyar. Namun nominal itu tidak setara dengan film atas novelnya tersebut. Kesejahteraan penulis anak bangsa perlu diperhitungkan. Di luar negeri sana, profesi penulis amat dihormati. Hal itu tidak  berarti penulis di tanah air ini sedikit, banyak nama-nama yang mendunia dan mengharumkan tanah air Indonesia ini, seperti W.S. Rendra, seorang satrawan populer dengan berbagai macam karya-karyanya yang dikenal oleh masyarakat mancanegara. Banyak penulis yang berlomba-lomba untuk mengirim karyanya ke media massa dengan mengharap honor tertentu. Seperti kata Asrori S. Karni, seorang pemenang Mochtar Lubis Award “Yang terpenting adalah menulis dengan kesungguhan dan keikhlasan. Soal penghargaan dan hadiah, adalah dampak dari proses sebelumnya”. Jadi tak harus beroyalti atau mendapat penghargaan yang tinggi, tapi bagaiman karya kita sampai di tangan pembaca dan menjadi sentuhan ringan atas pemecahan resiko mereka.
Bagaiman menjadi penulis yang baik?
Penulis yang baik haruslah penulis yang memiliki hati yang jujur. Seseorang bisa dikatakan berhasil apabila awalnya bermula dari sebuah kegagalan. Dan perlu ditanyakan jika seseorang itu langsung bisa ngetop tanpa proses lika-liku terlebih dahulu. Kejujuran dapat ditemukan dari hati nurani kita. Bersikaplah percaya pada diri sendiri dan selalu mempunyai komitmen yang tinggi. Penulis yang selalu berkomitmen akan puas terhadap karyanya sendiri ketimbang penulis yang bisanya cuman copas(copy paste).
Seorang penulis juga harus cerdas, artinya dia harus tahu mana yang benar dan yang tidak. Mana yang unsur SARA dan mana yang tidak.
Penulis yang baik tidak pernah menulis ketika good mood saja. Namun setiap ide-ide datang, penulis baik segera meluapkannya ke secarik kertas. Untuk menjadi penulis yang baik juga perlu sering berlatih, sering mencari referensi, membaca buku dan menulis dari hasil pemikirannya. Tulis saja terus ide-idemu, jangan terlalu memikirkan kata-kata, tanda baca atau sebagainya. Baru ketika telah jadi, lakukan penyuntingan. Entah tanda baca yang salah, kalimat yang kurang trep, majas yang kurang sempurna atau hal-hal lainnya. Setelah semua penyuntingan dilakukan, baca ulang hasil karyamu, pahami dan bubuhi sebuah judul yang menarik.
Jadi, jika ingin benar-benar menjadi penulis yang baik. Niati dan tekuni dengan sungguh-sungguh. Niscaya, semua perbuatan yang baik akan mendapatkan hasil yang baik pula.