Profesi menulis mulai banyak digandrungi oleh sebagian orang di dunia ini. Mereka sering menjadikan menulis adalah pekerjaan sambilan. Mengisi waktu luang dengan menuangkan ide di secarik kertas atau di depan layar monitor. Tapi tak semua pekerjaan sebagai penulis itu mudah, berkisar dari royalti yang hanya sekitar 20% dari karya yang dibuat dan hal itu tergantung oleh nama besar penulis tersebut. Royalti sebesar 20% itu bisa dinegosaikan dengan pihak penerbit. Sebagai contoh adalah J.K. Rowling penulis novel cerita serial petualang “Harry Potter” ini dapat meraih kekayaan dari tulisannya sampai miliyaran dolar dari karyanya tersebut. Bahkan kabarnya, kekayaannya telah mengalahkan kekayaan Ratu Inggris. Dan mari kita tengok kisah penulis anak bangsa misalnya, Habiburrahman El-Shirazy penulis novel “Ayat-ayat Cinta” yang mendapat royalti sampai 2 milyar. Namun nominal itu tidak setara dengan film atas novelnya tersebut. Kesejahteraan penulis anak bangsa perlu diperhitungkan. Di luar negeri sana, profesi penulis amat dihormati. Hal itu tidak berarti penulis di tanah air ini sedikit, banyak nama-nama yang mendunia dan mengharumkan tanah air Indonesia ini, seperti W.S. Rendra, seorang satrawan populer dengan berbagai macam karya-karyanya yang dikenal oleh masyarakat mancanegara. Banyak penulis yang berlomba-lomba untuk mengirim karyanya ke media massa dengan mengharap honor tertentu. Seperti kata Asrori S. Karni, seorang pemenang Mochtar Lubis Award “Yang terpenting adalah menulis dengan kesungguhan dan keikhlasan. Soal penghargaan dan hadiah, adalah dampak dari proses sebelumnya”. Jadi tak harus beroyalti atau mendapat penghargaan yang tinggi, tapi bagaiman karya kita sampai di tangan pembaca dan menjadi sentuhan ringan atas pemecahan resiko mereka.
Bagaiman menjadi penulis yang baik?
Penulis yang baik haruslah penulis yang memiliki hati yang jujur. Seseorang bisa dikatakan berhasil apabila awalnya bermula dari sebuah kegagalan. Dan perlu ditanyakan jika seseorang itu langsung bisa ngetop tanpa proses lika-liku terlebih dahulu. Kejujuran dapat ditemukan dari hati nurani kita. Bersikaplah percaya pada diri sendiri dan selalu mempunyai komitmen yang tinggi. Penulis yang selalu berkomitmen akan puas terhadap karyanya sendiri ketimbang penulis yang bisanya cuman copas(copy paste).
Seorang penulis juga harus cerdas, artinya dia harus tahu mana yang benar dan yang tidak. Mana yang unsur SARA dan mana yang tidak.
Penulis yang baik tidak pernah menulis ketika good mood saja. Namun setiap ide-ide datang, penulis baik segera meluapkannya ke secarik kertas. Untuk menjadi penulis yang baik juga perlu sering berlatih, sering mencari referensi, membaca buku dan menulis dari hasil pemikirannya. Tulis saja terus ide-idemu, jangan terlalu memikirkan kata-kata, tanda baca atau sebagainya. Baru ketika telah jadi, lakukan penyuntingan. Entah tanda baca yang salah, kalimat yang kurang trep, majas yang kurang sempurna atau hal-hal lainnya. Setelah semua penyuntingan dilakukan, baca ulang hasil karyamu, pahami dan bubuhi sebuah judul yang menarik.
Jadi, jika ingin benar-benar menjadi penulis yang baik. Niati dan tekuni dengan sungguh-sungguh. Niscaya, semua perbuatan yang baik akan mendapatkan hasil yang baik pula.