Nada bel berbunyi, anak-anak itu keluar dari pagar sekolah dan mengeluarkan uang sakunya, ini rizki bagiku. Semoga mereka datang menghampiri daganganku dan membeli sejumput sosis atau tempura buatanku dan menukarnya dengan selembar atau alhamdulliah dua lembar uang ribuan. Seorang bocah kecil wanita berkepang dua sedang memandang ke arahku, mengajak teman sebayanya untuk membeli daganganku.
“Beli apa adik manis?” ucapku lembut kepada pelanggan pertamaku hari ini.
“Sosisnya tiga sama tempura satu ya, Pak” jawabnya lugu sambil memainkan jarinya ke daganganku.
Tanganku mengambil makanan itu dan merendamnya ke minyak yang panas. Dalam pikiranku, andai saja Tika bisa bersekolah disini seperti mereka dan membeli jajan. Dia pasti jadi anak yang berbahagia. Tapi sayang, jangankan menyekolahkannya, membeli sesuap nasi aku masih kelagepan. Hal ini terjadi ketika Fitri, istriku merongrong semua hartaku. Dia berjanji untuk hidup setia kepadaku tapi kenyataanya dia malah mengambil semua kekayaanku dan pergi minggat. Tika yang masih itu enam bulan dia tinggal, padahal di usia Tika, dia masih haus akan air susu ibunya. Dan sekarang aku memulai dari awal. Harus terus mencoba melawan keras pahit manisnya hidup.
“Pak tidak pakai caos” ucap anak itu yang melihat gerik tanganku tengah ingin mengambil botol caos.
“Oh
iya dik, maaf. Ini” jawabku sambil menyerahkan seplastik caos dan
tempura yang hangat. Dan anak itu menyerahkan uang sakunya dengan
senyum. Aku jadi ingin bertemu Tika. Pasti dia sedang main petak umpet
sekarang dengan Nana.
Beberapa
anak lagi datang menghampiriku, semakin lama semakin banyak. Walaupun
aku bisa menghitungnya yaitu 6 orang tapi bila dihitung-hitung ini tak
lebih dari cukup untuk membeli dua piring nasi untuku dan Tika.
Bel
masuk berbunyi, saatnya mereka memulai pembelajaran kembali. Satu demi
satu anak berlomba-lomba masuk ke gerbang sekolah. Ada yang
ngoceh-ngoceh karena jajannya tersenggol teman lelakinya, ada juga yang
masih main sepak bola. Dan sekarang waktunya aku untuk pergi berdagang
ke daerah lain, yang lebih padat orangnya.
“Mau kemana Ko?” tanya mbak Yem, pedagang siomay yang melihatku menaikan dagangan ke sepeda ontel yang tersisa di rumah.
“Oh,
mau ke daerah Pegulon, mbak! Disana ramai sepertinya. Semoga disana
juga banyak yang beli” ucapku mencoba mengingat-ingat daerah yang baru
beberapa bulan aku huni.
“Amin,
hati-hati yo Ko. Aku disini saja” balas mbak Yem sambil melayani
anak-anak yang nekat beli siomay karena jam kelasnya kosong.
Aku
mengayuh sepeda ini, sepeda yang sudah lama aku beli. Sudah empat bulan
aku pindah ke daerah ini. Cukup banyak orang yang aku kenal.
Dalam
tetes keringat dan serangan panas aku mencoba untuk tetap berdiri.
Perutku mulai berbunyi. Di daerah ini cukup ramai pembeli, dan sekarang
aku yakin bisa membeli beberapa ikan teri untuk santapanku bersama Tika.
Hari
mulai senja, aku sebaiknya pulang. Tika pasti sudah kelaparan di rumah.
Aku membalikan sepedaku ke arah dimana tadi aku mendapat pelanggan
pertama. Aku melihat gadis kecil sedang bernyanyi di depan mobil. Dengan
berbekal tangan dan suaranya dia berusaha menghibur penumpang itu
dengan suara khasnya. Namun dia hanya mendapat beberapa koin receh. Aku
mengamatinya. Sepertinya dia tak asing lagi bagiku. Dia seperti .. Tika?
Dia membalikan badan, wajahnya kelihatan. Dia Tika!
“Tika, ngapain kamu nduk?” tanyaku sedikit gelisah dan kecewa.
“Bapak?” tanyanya bingung menghampiriku.
“Iya nduk, ngapain kamu main-main di jalan raya? Ayo sekarang pulang” ajaku sambil mengelus elus rambutnya yang kemerahan.
“Pak,
Tika kesepian di rumah. Gak ada yang bisa diajakin main. Nisa lagi les,
dia belum pulang” ucap Tika yang duduk di gagang sepedaku.
“Lho, kan ada Nana nduk?” tanyaku.
“Ah
Nana gak asyik. Gak bisa diajakin ngobrol terus kalau main petak umpet
aku terus yang jaga” celotehnya sambil memegangi tanganku. Nana adalah
boneka kucingnya yang aku beri ketika dia masih berumur lima bulan.
“Iya, nanti Tika Bapak cariin teman lagi” jawabku sambil mengayuh sepeda memasuki gang, hampir sampai ke rumahku.
“Ah,
Tika pingin sekolah Pak” pintanya sesampai di pintu rumah. Aku mulai
merasa bersalah. Kenapa aku menjadi orangtua yang bodoh begini? Tak
mampu menyekolahkan Tika? Apa aku tak pantas menjadi seorang kepala
rumah tangga yang baik?
“Iya
tunggu nanti kalau uang bapak sudah cukup, nanti Tika Bapak sekolahin.
Tika mau sekolah dimana?” tanyaku berusaha menyenangkan hati kecilnya.
“Di
SD 2 Pegulon, Pak. Bareng Nisa” jawabnya yang membuatku bimbang.
Sekolah itu terkenal cukup terpandang dan banyak dari kalangan “orang
punya”. Ini permintaan Tika. Aku harus berusaha, ya berusaha.
Aku
masuk ke kamar dan memeriksa celenganku. Masih setengah jalan. Aku
harus terus membanting tulang agar bisa menuruti permintaan Tika.
Kulihat Tika sudah meratapi kasurnya dan mulai tidur. Dia belum
menghabiskan makanannya. Apa mungkin dia sudah bosan dengan lauk yang itu-itu saja? Aku harus cari menu
lain. Dalam pikiranku terlintas untuk menggadaikan barang yang ada di
rumah ini. Tapi apa? Tak ada yang bernominal tinggi sepertinya. Hanya
saja, sepeda ontel itu. Sepertinya itu cukup untuk membantu Tika
mendaftar ke sekolahan. Tapi bagaimana nanti aku berdagang? Hm .. aku
akan memikul daganganku itu saja. Sekuat tenaga.
Pagi
hari dengan embun, aku membangunkan Tika untuk shalat subuh bersama.
Dalam do’aku ini aku berharap agar anaku ini bahagia dan berhasil.
“Tika, besok Bapak anterin kamu daftar ke sekolah” ujarku yang membuat Tika menarik senyumnya.
“Wah?
Benar Pak? Tika senang sekali. Pasti nanti bisa main sama banyak temen”
tutur Tika bahagia sambil bernyanyi di sekitar rumah.
Hatiku
juga ikut bangga. Aku mulai menata daganganku dan menaikannya ke sepeda
ontelku. Ini barang yang harus kugadaikan demi memenuhi kesenangan
Tika. Sebelum aku berangkat, Tika sedang asyik menggambar-gambar di
sebuah buku. Aku berpamitan dengan anak tunggalku itu.
Sesampai
di pegadaian, sebelumnya aku menitipakan daganganku ini ke mbak Yem.
Dia adalah orang yang amat begitu aku percayai. Aku masuk dengan risau,
meyakinkan tekadku ini. Seseorang di depanku menyapaku, menanyakan ingin
menggadaikan apa. Aku melirik ke sepeda ontelku. Suasana di kantor
pegadaian tidak begitu ramai. Jadi aku tak perlu terlalu malu untuk ini.
Tapi sebenarnya aku memang tak harus malu kan? Aku diberi secarik
kertas yang harus aku isi. Kesepakatan terjadi. Aku mendapat beberapa
uang yang kurasa cukup untuk menyenangkan hati Tika besok. Selanjutnya
aku pergi ke toko perlengkapan sekolahan. Aku mengambil tas, buku,
sepatu dan pensil seperlunya. Lalu aku kembali ke tempatku berdagang.
Sebuah ujian dan kebahagian, aku menyebutnya seperti itu.
Dagangan
hari ini lumayan laku, seperti hari sebelumnya. Senja itu aku pulang
dengan menenteng tas kresek beserta pikulan daganganku. Tika bahagia
tapi sempat syok ketika melihatku pulang tanpa mengendarai sepeda.
“Lho? Sepeda Bapak kemana?” tanya si kecil yang menengok-nengok ke sekelilingku.
“Sepeda Bapak jual, untuk memenuhi biaya sekolahmu nak” jelasku.
“Tapi ..” tuturnya yang langsung aku potong.
“Sudah ini Bapak belikan untukmu” ujarku serambi menyerahkan kresek berisi peralatan sekolah untuknya.
Aku
melihat sedikit kecemasan di raut wajah Tika. Memang, tanpa sepeda aku
akan makin susah berjualan, terlebih di desa ini cukup banyak pedagang
sosis. Waktu sudah semakin larut, aku menyuruh Tika untuk segera
tertidur. Tapi sebelumnya dia ingin aku bernyanyi kepadanya, walau
suaraku agak parau karena akhirnya aku bisa menyekolahkan Tika. Sekarang
dia bukan lagi anak yang buta akan bangku sekolah. Tika tertidur
memeluk Nana. Kuhangati dia dengan jarik. Selamat tidur Tika, semoga
esokmu lebih cerah.

seru juga tuh ceritanya :)
BalasHapusbtw blognya udah aku follow
follback ya ..
rumahkomputer.net