Yang Punya Blog

Foto saya
Kendal, Jawa Tengah, Indonesia

Selasa, 20 Maret 2012

Malam ke Malam

Malam yang dingin. Kueratkan jaketku lagi dan kuhisap rokok yang hanya seberapa batang. Aku rasa harus keluar dan membeli yang baru. Malam ini begitu dingin. Hujan masih juga bersuara di luar, semakin dilihat hujan itu semakin menjadi. Cerewet. Batinku terhadap penyiar radio yang ada di depanku. Burung perkutut nempel lagi di bibirnya itu. Berkomat-kamit kepadaku yang sedang duduk termenung dan kedinginan di lobi. Sok ngatur. Batinku lagi.
“Hei Bung! Aku ini kedinginan!” tuturku dari balik punggungnya.
“Kerjamu itu hanya mengurusi ruangan ini dan mengurusi apa mau pegawai, cepat laksanakan mauku” jawab orang itu sok.
Ah! Kalau saja bapak tak sekere sekarang, pasti aku bisa menikmati bangku kuliah dan mendapat gelar S1 atau S2, mendapat wisuda dan ijazah, serta tak harus bekerja sebagai babu lagi. Tapi mau gimana lagi. Gara-gara kejadian 1 September itu, karena kecerobohan babu-babu bapak atau perlakuan orang yang benci dengan bapak, sawah jadi ludes habis, seperti hamparan rumput yang hitam. Dan bapak jadi stres, jadi gila. Sekarang dia di rumah bersama adikku. Ibu telah berpulang meninggalkan kami setelah kebangkrutan bapak. Dan hal itu membuat bapak gila tak karuan.
Mantelku kurekatkan kembali dan kutarik payung. Hujannya tak juga berhenti. Langkah kakiku menerak tanah-tanah yang becek. Di sini begitu gelap dan dingin. Bulu kudukku merinding. Aku mempercepat langkah. Ah, sialan! Ingin aku kembali pulang ke penyiar radio itu dan melemparkan uangnya. Petir menyambar. Jantungku berdetak tak karuan. Di sebuah pojok rumah aku mendengar anak kecil menangis, tepatnya anak laki-laki. Jantungku semakin tak karuan. Seperti horor saja. Tapi badanku menarikku untuk mencari bunyi tangisan itu. Kupegang erat gagang payung dan melangkah semakin getir ketika suara tangisan itu semakin jelas. Tanah-tanah ini amat becek, menyusahkan langkahku. Hampir aku goyah dan terjatuh ketika kubangan lumpur ini kuinjak, beginilah kalau tidak diaspal saja. Aku melihat anak itu. Dia duduk di bangku depan rumahnya yang terasa angker. Apa itu manusia? Tapi sosoknya tak seperti tuyul atau hantu. Dia juga mengenakan baju yang bagus tapi basah oleh air hujan. Dia juga memakai sandal swallow warna kuning. Dia manusia! Ya benar, wajahnya juga tak pucat. Aku mencoba mendekat kepadanya. Memastikan. Tapi dia keburu tahu keberadaanku. Dia tersentak kaget dan berlari masuk rumah. Kakinya ada dan dia tidak mengambang. Aku semakin yakin kalau dia manusia. Tapi mengapa dia menangis di hujan yang deras ini? Dan mengapa dia masuk di rumah angker itu?. Aku memutuskan untuk tidak mendekatinya dan berjalan menuju warung untuk membeli rokok dan nasi kucing. Aku juga tidak lupa membeli pasta gigi pesanan penyiar cerewet itu.
Semua barang sudah kudapatkan, sekarang kembali pulang dan melewati rumah angker itu. Hujan tak deras lagi. Hanya gemericik deras gerimis. Aku masih mendengar tangisan itu. Aku terus berjalan sambil memandangi arah tangisan itu berada. Ketika aku melewati rumah itu dan beberapa langkah menjauh aku melihat sosok perempuan masuk dan berusaha menenangkan tangisan itu. Mungkin itu ibunya. Tapi anak itu membandel dan mengeraskan tangisannya.
Pukul sepuluh, aku pulang setelah memberikan pasta gigi ke penyiar cerewet itu. Hujan telah mereda dan tak ada air lagi turun dari langit. Hanya kubangan yang terbentuk di tanah bekas terjangan hujan. Aku menaiki sepeda tua bapak lalu mengayuh genjotannya yang sudah kusam. Rantainya pun sering copot. Sepertinya aku akan merenovasinya. Tomo menghentikanku.
“Eh! Indro! Tunggu aku!” teriaknya sambil mebenarkan tas punggungnya. Aku menoleh.
Tomo adalah penyiar radio disini, dia pegawai baru. Baru bekerja empat bulan yang lalu. Wataknya baik, dia dekat denganku. Tapi dia teledoran. Pernah suatu hari dia kehilangan handphonenya dan meminta bantuanku untuk mencarinya. Dan ternyata, handphonenya itu ada di jok motornya. Dia lupa menaruhnya. Aku menggeleng-geleng tak karuan.
“Aku ada makanan untuku, In” ucapnya sambil menyerahkan satu kardus steroform kehadapanku.
“Oh, makasih ya Tom” ucapku senang sambil memasukan makanan itu ke tas kreseku.
“Hati-hati di jalan ya In. Mana ya kunci hondaku?” tanyanya sambil meraba-raba tubunya.
“Kan sudah kamu pegang sih?” jawabku terkikih. Tomo tertawa. Begitu juga aku. Kami tertawa bersama-sama.
Aku mengayuh cepat sepedaku dan sesegara mungkin ingin menemui bapak. Pasti dek Ria sudah kewalahan mengurusi bapak. Sampai dirumah. Aku melihat bapak duduk di kursi roda di ruang tamu. Tatapannya kosong. Kurasa jiwanya tersengat kembali. Disampingnya ada Ria dengan perasaan gelisah. Dia menghampiriku. Aku khawatir terjadi sesuatu.
“Mas, kontrakan sudah jatuh masa tagihan, tadi pak Surip datang dan menagihku yang sedang menyuapi bapak” ucapnya lirih. Aku sudah tahu ini pasti akan terjadi. Bayaranku masih beberapa ratus rupiah saja. Aku harus mencari pinjaman.
“Lalu apa lagi yang pak Surip lakukan?” ucapku ragu-ragu.
“Dia menyita radio bapak sebagai jaminan mas” jawab Ria sedih.
Aku melihat bapak kesal dan masuk ke kamarnya. Ingin rasanya sejenak aku melupakan masalah ini. Tapi masalah ini terus bersuara dan tak mungkin aku mencegah mendengar dan merasakannya. Aku meyakinkan adikku lusa akan aku lunasi. Aku capek ingin tidur. Aku melewati kamar bapak, dia sedang memandangi foto ibu. Air membendung di sisi mataku. Aku rindu masa-masa kemakmuran kami. Bergurau bersama di depan TV dan karaokean bersama menyanyikan lagu Elfi Sukaesih. Tapi Allah membalikan semua. Allah menguji kami. Aku masuk ke kamar dan membaringkan tubuhku. Berusaha terlelap.
***
Malam berikutnya, malam ini tidak turun hujan namun udara begitu dingin. Cuaca tengah extrim akhir-akhir ini. Aku mengepel lantai yang basah sambil terus merekatkan mantelku. Kukeluarkan lagi rokokku untuk menghangatkan susana. Musim hujan membuatku untuk sering merokok. Penyiar cantik mendekatiku. Aduhai! Dia begitu cantik dan anggun. Dia memintaku untuk membuatkan kopi yang hangat. Aku melaksanakan. Tak menunggu waktu lama, aku masuk ke ruangannya dan melihatnya duduk bingung di meja kerjanya. Ingin kutahu apa yang terjadi sebenarnya namun aku hanya babu.
Aku keluar untuk membeli rokok pesanan. Aku melihat anak itu lagi, dia termenung di pinggir jalan. Aku mendekat dan menjajarinya. Kali ini dia tidak berontak. Mungkin waktu itu dia kaget karena mengira aku hantu, ya.
“Dek, mengapa sendirian?” tanyaku canggung karena tak biasa aku bertanya-tanya. Namun anak itu tetap terdiam dan menitihkan airmata. Entah apa yang merasukinya, dia tiba-tiba bercerita tentang kemerenungannya itu. Aku mengetahui namanya, dia Anjar.
“Kejadian itu mas, tepatnya disini” ucapnya sambil melihat aspal di depannya itu. Aku mencoba tenang sambil menghayati perkataannya.
Dia bercerita tentang nasib kedua oangtuanya dan nasibnya. Waktu itu ketika Anjar masih berumur empat tahun dan dia baru masuk TK, ibu Anjar seperti tersengat setan. Dia marah-marah kepada bapaknya dan melempari perabot rumah tangga. Anjar kecil takut dan duduk di tepi pojok depan rumahnya. Anjar menangis. Ibunya keluar dengan tas ransel ditentengnya dan bapaknya mencegahnya dengan perasaan sedih dan takut. Mereka kejar-kejaran di hujan yang deras. Anjar mengikuti dari belakang sambil terus menangis. Ibu Anjar melepaskan tangan suaminya dan berlari menyeberangi jalan. Namun dari kejauhan, sebuah truk melaju dengan cepat. Bapak Anjar tak tega melihatnya dan dia menarik tangan istrinya. Tapi na’as, kedua-duanya habis tertelan truk. Anjar kecil panik dan takut. Dia mendekati tubuh kedua orangtuanya yang berlumuran darah. Anjar kecil berteriak-teriak minta tolong tapi tak ada yang mendengarnya karena suara hujan mematikan teriakan Anjar. Truk itu lari dari permasalahannya. Dari kejauhan Anjar memaki-maki truk itu yang sudah melaju beberapa kilometer darinya. Anjar sangat panik. Dia menggoyang-goyangkan badan kedua orangtuanya namun mereka terus terdiam dan tak bersuara. Beruntunglah, sepeda motor berhenti dan menolong Anjar. Kedua orangtuanya segera dibawa ke rumah sakit. Anjar menangis dengan panik. Dia masih kecil. Terlalu kaget dan lugu untuk menyaksikan semua kejadian ini. Dokter keluar dari ruang UGD dan berkata kepada pengendara sepeda motor itu. Pengendara itu tampak kecewa. Anjar mendekatinya dan bertanya. Ternyata nyawa kedua orangtua Anjar tak bisa tertolong. Anjar menangis menjadi-jadi. Pihak rumah sakit telah menghubungi keluarga Anjar. Namun, yang datang hanya bibi Anjar. Anjar memeluk bibinya. Dia menumpahkan semua isak tangis di bahu bibinya. Pagi harinya, jasad kedua orangtua Anjar dibersihkan dan dipakaikan kain kafan. Anjar kecil terus mendampingi kedua jasad orangtuanya. Bibinya terus menenangkannya. Tapi apa boleh buat, Anjar hanya bocah laki-laki kecil yang msih butuh kasih sayang kedua orangtuanya. Dan ketika keduanya meninggalkannya, pastilah Anjar sangat terpukul. Anjar melihat kedua jasad orangtuanya masuk ke liang lahat. Anjar sebetulnya tak tega meninggalkan kedua orangtuanya sendirian di dalam lubang itu. Namun perbuatan Anjar berhasil di cegat bibinya. Anjar lalu diasuh oleh bibinya. Mula-mula bibinya amat baik dan perhatian kepadanya melebihi perhatiannya kepada anaknya. Namun selang enam bulan setelah kematian orangtua Anjar, bibinya berubah, dia seperti ibu tiri bagi Anjar. Anjar disiksa dan pernah dia ingin dijual ke orang kaya tapi Anjar berhasil kabur dan berdiam di rumah kedua orangtuanya yang tak berpenghuni. Namun bibi Anjar berhasil menemukannya dan memarahi Anjar habis-habisan. Dan sekarang setiap ada hujan dan petir, Anjar selalu berlari ke rumah keduaorangtunya dan menangis di pojok depan rumahnya.
Cerita Anjar membuatku mengeluarkan airmata dan melupakan pesanan penyiar cantik tadi, pasti orang itu akan mencaciku karena tak tepat waktu. Anjar melihat raut mukaku dan menyuruhku untuk segera pergi dari sini. Dia berterimakasih kepadaku karena sekian tahun dia memendam perasaan seperti itu. Sebelum aku pergi, aku memberikan uang jajan kepadanya dan dia menerimanya dengan suka hati.
Aku pergi meninggalkan Anjar yang masih termenung melihat bekas kejadian yang dialami kedua orangtuanya itu. Masalah dan nasibku tak seberat yang dialami Anjar. Anjar yang masih kecil tak sepantasnya menjalani semua itu. Dia layaknya bermain dan bersenang-senang dengan teman seusinya. Tapi takdir dari Allah yang menjalankan.
Aku sampai di depan warung. Dimana penjualnya? Batinku menengok nengok seisi warung. Bagaimana bisa sukses mas, mbak, kalau pekerjaan selalu ditinggal-tinggal. Aku mencari warung lain lagi, kali ini ada pedagangnya. Orangnya cantik dan masih muda. Sempat aku terbengong menatapnya terus-terusan dan dia tersipu malu sambil menyodorkan rokok di depanku. Aku kembali ke kantor dan berpikir pastinya aku akan di maki habis-habisan. Aku melewati dimana tadi tempat anak tadi termenung, tapi dia tidak ada. Mungkin dia sudah pergi karena perutnya lapar. Sebab, selama tadi dia bercerita, perutnya selalu berbunyi.
Aku masuk dan menyerahkan rokok kepada penyiar cantik itu. Ya, benar. Aku dimaki habis-habisan. Aku berjalan menjauh dari makian itu dan menenangkan hatiku. Aku mencoba tegar melewati permasalahan yang kuhadapai. Antara hati dan pikiran. Anjar telah membuatku semangat. Dia meyakinkanku untuk tidak berbuat keterlaluan ketika kesabaran kita melampaui batas. Aku pergi ke Mushola. Sembahyang, meminta ketenangan kepada Sang Khalik dan jalan pintasnya. Lalu aku kembali bekerja mengepel lantai itu. Hujan turun, aku rasa Allah mendengar do’aku.
Aku bertemu dengan Tomo dan bersenda gurau seperti biasanya.
Seperti kebiasaan Malam ke Malam..
JAZANTRI NOVIA ILMANIAH

Tidak ada komentar:

Posting Komentar