KENAPA AKU MENULIS ?
Menulis, hal termudah bagi setiap orang. Menulis angka, menulis huruf ABC, menulis surat cinta. Ya, menulis adalah hal wajar bagi semua kalangan usia. Tak butuh kursus khusus untuk anda pandai menulis. Berbekal ilmu abjad ABC pasti menulis itu mudah. Tapi perlu dipertimbangkan bagaimana merangkai kata tersebut menjadi wacana yang manis dan tidak mengandung SARA. Tapi bagaimana jika seseorang kecanduan menulis? Banyak lontaran pertanyaan berbunyikan “Hei, mengapa kamu menulis?”. Bahkan ibu pun bilang “Nak, sudah larut, berhentilah menulis!”. Pernyataan itu menjadi perdebatan di otak-otak para pecandu menulis begitu juga aku. Ketika menulis gigiku merapat berjajar walaupun ada satu gigi yang ompong di bagian belakang. Tapi secara refleks otakku menyuruhku menjawab “Aku suka menulis”. Seperti sirene kebakaran, tanganku selalu gatal akan pensil dan kertas itu jika aku berhasil menemukan ide dan menarik sudut bibirku ketika aku berhasil menumpahkan semuanya ke kertas itu samapi penuh dan aku harus mencari kertas yang baru. Pertanyaan “Mengapa kamu menulis?”, masih selalu menjadi perdebatan di otaku. Seakan-akan bosan dengan pertanyaan itu, sisih kananku berbisik ”Sudahlah berhenti menulis” , tapi sisih kiriku berganti balas ”Jangan berhenti”. Dan hal itu selalu menjadi perdebatan ketika lontaran pertanyaan-pertanyaan itu masuk ke lubang telingaku. Tapi aku punya prioritas ! Menulis bagiku adalah salah satu hidupku ! temanku !. Dengan menulis semua beban pikiranku ini bisa terluapkan dan kertas dan pensil itu menjadi mangsa isi hatiku.
Menulis juga bisa membuatku menjadi orang lain. Mengetahui isi hidup para pelacur, anak jalanan dan menjadi kucing yang terlantar. Petualang seperti itu sungguh menyenangkan. Tidak perlu anda pergi ke istana atau naik pesawat mewah, namun hanya dengan menulis anda dapat merasakan semuanya itu. Anda juga dapat dapat membuat orang lain masuk dalam tulisanmu tersebut . Tapi ingat, jangan sampai mengandung unsur SARA, ya. SARA itu seperti penyimpangan akan ras, adat, dan kebiasaan seseorang maupun golongan. Dengan menulis, anda juga bisa tahu kehidupan orang, ras, dan bangsa lain. Seperti menulis artikel, anda dapat mengetahui rahasia seseorang yang sebelumnya tak pernah anda ketahui dan andapun akan kaget dan menceritakan itu ke buku dan pensil.
Dahulu, aku tak pernah mempunyai hobi menulis. Hobiku memasak dan nonton televisi siaran kartun Doraemon. Namun, ketika aku diperkenalkan tentang kehidupan, aku masuk ke usia limabelas tahun, aku mulai tertarik dengan lawan jenis, mendapat sahabat dan konflik, mengerti masalah keluarga. Aku mulai canggung untuk menceritakan semuanya ke ibuku. Banyak teman bilang, usia limabelas tahun adalah usia remaja, dan teman-temanku juga tak begitu dekat lagi dengan ibu mereka. Tak meminta untuk menyuapin mereka makan, meminta uang jajan lebih, meminta untuk merapikan tempat tidurnya, itu sudah tidak lagi. Aku juga agak malu untuk bercerita soal lawan jenis kepada ibuku. Aku menceritakan itu pada temanku tapi mereka juga sebaya denganku, sama-sama tidak tahu. Seperti ada gertakan di otakku, aku menengok ke buku dan pensil itu dan mencoba mencoretkan kata-kata diatasnya. Dan ternyata itu menyenangkan. Bebanku terasa manjadi ringan. Pikiranku sesegar aku habis mandi.
Kini aku termasuk orang yang terserang gejala kecanduan menulis. Ide dan ungkapan ini selalu tertumpuk di otaku dan perlu ditata. Menulis menjadi salah satu pilihannya. Menulis itu menyanangkan. Lebih menyenangkan lagi apabila karya tulisanku itu dapat dinikmati orang lain atau orang banyak dan mereka memberikan kritik sehingga aku lebih bergairah untuk menulis lagi. Jadi kawan, apabila orang-orang menanyaimu mengapa kamu suka menulis? Berikan jawaban bahwa kamu suka menulis.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar